Sore itu, pasar kota Huoling dipenuhi keramaian, suara tawa dan teriakan memecah kesunyian. Di tengah hiruk-pikuk tersebut, judi batu menarik perhatian, membuat orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk para kultivator, berkumpul dengan penuh antusias. Mereka tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mendapatkan kristal roh yang sangat langka. Batu roh yang sulit ditemukan, ditambah alat untuk membukanya yang sangat jarang, membuat suasana semakin mendebarkan. Hari itu, untuk memastikan penjualan batu roh sukses dan menarik perhatian, keluarga Huo dari pusat kerajaan mengeluarkan banyak biaya untuk mendatangkan tukang ahli batu dengan pisau batu surgawi ke kota Huoling, sebuah kota kecil di ujung kerajaan Qingxuan.

"Tuan Muda, lihat! Pria itu terlalu sombong, dikelilingi oleh banyak wanita cantik. Seharusnya Tuan Muda yang bersama mereka," kata Sun Fang, pelayan wanita yang duduk di pangkuan Huo Tao, dengan nada menggoda.

Sun Fang, yang sebelumnya sempat bersitegang dengan Lynx di Paviliun Seribu Rasa, kini melihat kesempatan untuk membalas dendam. Melihat Lynx dan Jelita di pasar judi batu, dia bertekad untuk memanfaatkan Huo Tao yang juga menyimpan dendam terhadap mereka.

"Apa kamu pikir aku tidak tahu? Aku ingin menghajarnya, tapi lihatlah, anak walikota yang menyebalkan itu ada di samping mereka," keluh Huo Tao, wajahnya tampak frustrasi.

"Kenapa Tuan Muda harus khawatir dengan wanita itu? Meskipun dia anak walikota, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa kepada keluarga Tuan Muda," bujuk Sun Fang dengan meyakinkan.

"Kamu tidak tahu, sesuatu yang besar akan terjadi. Karena itu, aku harus menghindari masalah dengan mereka," kata Huo Tao, nada suaranya tegas dan penuh perhitungan.

"Selain itu, aku sudah memerintahkan empat anak buahku untuk menculik wanita itu, tapi sampai sekarang mereka tidak ada kabar," lanjut Huo Tao dengan amarah yang membara, matanya menyala penuh kebencian.

"Tuan Muda, aku punya ide. Bagaimana kalau Tuan menantang pemuda itu untuk judi batu? Dengan demikian, dia akan mempermalukan dirinya sendiri," kata Sun Fang, senyumnya menyiratkan kegembiraan.

" Apa maksudmu?" tanya Huo Tao, matanya berbinar penuh ketertarikan dengan ide Sun Fang yang tampak cerdik.

"Tuan bisa melakukan ini..." Sun Fang membisikkan rencananya kepada Huo Tao, suaranya penuh rahasia.

"Bagus. Kamu sangat pintar. Segera atur semuanya bersama yang lainnya. Aku akan bersiap-siap," kata Huo Tao, bersemangat, wajahnya bersinar dengan antisipasi.

Dengan cepat, Sun Fang bangkit dan mulai menjalankan rencananya, bekerja sama dengan beberapa anak buah Huo Tao untuk merekayasa kemenangan demi kepentingan Tuan Muda mereka.

"Rasakan pembalasanku, wanita jalang. Aku akan mempermalukan pria itu terlebih dahulu sebelum aku menikmati melihat dirimu bertekuk lutut di bawah kaki Tuan Muda Huo Tao," batin Sun Fang sambil tersenyum jahat, hatinya dipenuhi rasa puas yang gelap.

Sementara itu, Lynx yang sedang dibuat pusing oleh Li Wei hanya bisa menghela napas. "Baterai wanita satu ini benar-benar tahan lama. Dari tadi aku tidak melihat dia diam, selalu saja mengomentari banyak hal," keluh Lynx di dalam hati.

"Xiao Ling, bagaimana menurutmu batu yang aku beli ini? Aku membeli beberapa dan juga aku membelikan Yun Qing. Kamu bisa memilihnya jika ada yang kamu suka. Aku akan membayarnya... tapi jika tidak mahal, ya..." kata Li Wei sambil tertawa, nada suaranya menyindir Lynx dengan niat bercanda.

Lynx melihat Li Wei membawa enpat batu besar seukuran bola basket, sementara Jelita hanya membawa satu batu seukuran bola tenis. Dengan kekuatannya di level master foundation, membawa batu besar sangatlah mudah bagi Li Wei.

"Aku tidak ingin membelinya, tapi Li Wei memaksaku," kata Jelita sambil menundukkan kepala, nada suaranya penuh keengganan.

Lynx tersenyum. "Pilihan bagus," pujinya, berusaha mendukung.

"Huh, bagus bagaimana? Kamu tidak lihat punyaku lebih besar? Pasti setidaknya ada kristal roh yang sangat besar di dalam salah satu batu ini," kata Li Wei dengan mengusungkan dadanya dengan bangga.

Lynx hanya menggelengkan kepala dan berkata, "Batu roh yang besar belum tentu juga ada kristal roh didalamnya. Kuharap kamu tidak kecewa dengan pilihanmu itu," kata Lynx sambil tersenyum misterius.

Dia lalu melirik ke arah Ling Mei. "Apakah Nona Ling Mei tidak tertarik membeli sesuatu?" tanya Lynx.

Namun, Ling Mei hanya diam dengan tatapan dingin sebelum pergi menyusul Li Wei, yang sudah membawa batunya bersama Jelita ke tempat tukang batu untuk membelah batu tersebut.

"Lihat saja, Xiao Ling. Aku akan membuktikan kepadamu bahwa batu yang kupilih sangatlah bagus," kata Li Wei sambil menyindir, senyumnya penuh tantangan.

"Batu Nona memang bagus. Lihat bentuknya. Saya yakin pasti kita akan menemukan kristal roh yang besar," puji tukang batu yang bersiap membelah batu Li Wei.

Mereka sudah terbiasa melihat berbagai macam manusia yang melakukan judi batu, baik manusia biasa maupun kultivator; semua memiliki keinginan kuat untuk mendapatkan kristal roh yang bagus. Dan satu hal yang menyatukan mereka adalah kebahagiaan saat pilihan mereka dipuji. Para tukang batu pun telah terlatih dan diperintahkan untuk mendorong semakin banyak penduduk membeli dengan memuji pilihan mereka.

Tukang batu mengatur peralatannya dengan cekatan, sementara Li Wei berdiri di depan, penuh harapan dan rasa percaya diri. "Ayo kita mulai! Aku yakin salah satu dari batu ini pasti menyimpan kristal roh yang luar biasa," katanya dengan semangat, matanya bersinar penuh antusias.

Jelita berdiri di sampingnya, menatap batu-batu itu dengan rasa ingin tahu. "Aku harap batu itu memiliki sesuatu yang menarik. Li Wei, kamu pasti sudah memilih dengan baik," ujarnya, berusaha memberikan dukungan.

"Ya, tentu saja! Batu-batu ini pasti akan membuatku menjadi bintang di pasar judi batu ini! Aku juga memiliki keberuntungan yang sangat bagus." jawab Li Wei, berusaha menghilangkan rasa gugup yang mulai menghantuinya.

Tukang batu pertama mengambil batu seukuran bola basket yang paling besar dari tumpukan Li Wei. Dengan gerakan hati-hati, ia mulai memecahkan batu tersebut. Suara retakan memenuhi udara, dan semua yang hadir menahan napas, menunggu apa yang akan terungkap.

"Apakah kamu siap, Li Wei?" tanya Lynx, yang sudah mengetahui isi batu tersebut, sambil berdiri di belakangnya.

"Tentu saja! Lihat saja!" jawab Li Wei, berusaha menyembunyikan rasa cemas di dalam hatinya.

Batu pertama hancur menjadi dua, tetapi tidak ada apa-apa di dalamnya. Hanya kegelapan dan kekosongan yang menyambut mereka. Li Wei menatap batu yang telah terbuka dengan ekspresi kecewa. "Huh? Mungkin batu ini memang belum memberikan yang aku inginkan, tetapi masih ada empat lagi," katanya, berusaha bersikap optimis.

Tukang batu melanjutkan dengan batu kedua, kali ini yang sedikit lebih kecil. "Semoga yang ini lebih baik," gumamnya sambil mengayunkan pisau batu surgawi dengan hati-hati.

Kembali, suara retakan menggema, dan saat batu itu terbuka, harapan Li Wei kembali hancur. "Tidak ada!" teriak Li Wei, kesalnya mulai terlihat. "Dua batu dan dua kekosongan? Ini tidak mungkin!"

"Li Wei, aku sudah bilang, kamu jangan kecewa," kata Lynx dengan nada tenang, dia sudah mengetahui bahwa batu-batu itu tidak ada satupun yang memiliki kristal roh.

"Kenapa bisa begini?!" Li Wei hampir berteriak, wajahnya tampak merah karena kemarahan yang tak tertahankan. "Apa yang salah dengan batu-batu ini?!"

Jelita menepuk punggungnya dengan lembut, berusaha menenangkannya. "Mungkin yang berikutnya akan lebih baik, Li Wei. Kita masih punya beberapa batu lagi," ujarnya, berusaha menghibur.

"Ya, ya, kita lihat saja," balas Li Wei, suaranya semakin mendesah. Tukang batu pun mulai membuka batu ketiga. Ketegangan semakin meningkat ketika suara retakan terdengar lagi, dan semua orang dalam kerumunan menunggu dengan penuh harap.

Batu ketiga pun dibelah, namun hasilnya sama. "Kekosongan lagi?!" Li Wei menendang tanah dengan frustrasi, membuat beberapa orang di sekitarnya melangkah mundur.

Jelita menatap Li Wei dengan penuh simpati. "Mungkin... mungkin memang kita belum beruntung untuk mendapatkan kristal roh, Li Wei. Tidak semua orang bisa beruntung, kamu harus sabar," katanya pelan.

